Di Balik Kritik Pedas untuk Sananta: Mengapa Herdman Tegas Membela Striker yang 'Gagal' Cetak Gol?
John Herdman tegas bela Ramadhan Sananta dari hujatan netizen. Ini analisis mendalam soal peran striker di luar mencetak gol dan budaya suporter Indonesia.

Bayangkan Anda seorang striker. Tim Anda menang telak 4-0, tapi nama Anda justru memenuhi kolom komentar media sosial, dibombardir kritik pedas karena dianggap ‘gagal’ mencetak gol. Itulah realitas pahit yang dialami Ramadhan Sananta usai kemenangan Timnas Indonesia atas Saint Kitts and Nevis. Di tengah euforia kemenangan, sorotan justru mengerucut pada satu hal: pundak sang penyerang yang dianggap kosong. Namun, dari sudut pandang pelatih John Herdman, narasi ini justru mengabaikan sebuah kebenaran mendasar dalam sepak bola modern: tidak semua kontribusi terukur dari angka di papan skor.
Lebih Dari Sekadar Pencetak Gol: Filosofi Herdman yang Terabaikan
Reaksi John Herdman membela Sananta bukan sekadar bentuk loyalitas pelatih kepada anak asuhnya. Ini adalah pernyataan filosofis. Herdman, dengan latar belakangnya membangun tim nasional Kanada dan Selandia Baru dari nol, memahami bahwa membangun tim pemenang membutuhkan lebih dari sekadar kumpulan individu berbakat. Dibutuhkan pemain yang rela ‘berkotor-kotor’, melakukan pekerjaan taktis yang tidak glamor demi kebaikan kolektif. Dalam pertandingan melawan Saint Kitts and Nevis, statistik mungkin menunjukkan Sananta tidak mencetak gol. Tapi coba tanyakan pada Ragnar Oratmangoen atau Beckham Putra Nugraha yang leluasa bergerak karena ruang yang diciptakan oleh pergerakan dan pressing intens Sananta dari lini terdepan. Peran ini, dalam kamus Herdman, sama berharganya dengan assist atau gol.
Membaca Permainan Melalui Lensa yang Berbeda
Kritik terhadap Sananta seringkali berhenti pada momen finising yang terlewat. Padahal, analisis posisional yang lebih mendalam akan mengungkap kontribusinya. Sebagai target man, Sananta kerap menarik dua bek lawan, menciptakan ketidakseimbangan (overload) di area lain yang dimanfaatkan pemain sayap atau gelandang serang. Pressing-nya yang agresif dari depan juga sering memaksa bek lawan melakukan umpan panjang atau bahkan kesalahan, yang menjadi awal serangan balik cepat Indonesia. Data dari beberapa pertandingan kualifikasi sebelumnya menunjukkan, dalam pertandingan di mana Sananta terlibat, persentase kepemilikan bola Indonesia di sepertiga akhir lapangan lawan cenderung lebih tinggi. Ini bukan kebetulan.
Budaya Suporter dan Ekspektasi yang Tak Realistis
Fenomena hujatan kepada Sananta membuka diskusi yang lebih luas tentang budaya suporter sepak bola Indonesia di era digital. Ada ekspektasi instan dan demand untuk performa sempurna setiap saat, yang seringkali abai terhadap konteks. Setiap pemain memiliki siklus form, dan bahkan striker top dunia sekalipun mengalami periode paceklik. Membandingkan Sananta, yang baru beberapa tahun membela timnas, dengan striker Eropa dengan ratusan pertandingan level top adalah perbandingan yang apple to orange. Opini pribadi saya, sebagai pengamat, adalah bahwa kita sering terjebak dalam budaya ‘mencari kambing hitam’ alih-alih menganalisis permainan secara holistik. Kritik konstruktif itu sehat, tapi banjir cacian di media sosial hanya merusak mentalitas dan kepercayaan diri pemain, aset terpenting tim nasional kita.
Belajar dari Giroud: Pelajaran dari Piala Dunia 2018
Herdman menyebut nama Olivier Giroud bukan tanpa alasan. Contoh ini brilian dan sering luput dari perhatian. Di Piala Dunia 2018, Giroud, striker utama Prancis, bermain selama 546 menit tanpa mencetak satu gol pun sepanjang turnamen. Namun, apakah Didier Deschamps menggantinya? Tidak. Apakah suporter Prancis membencinya? Jauh dari itu. Giroud dihargai karena kerja kerasnya, kemampuannya menahan bola, dan pergerakannya yang membuka ruang bagi Kylian Mbappe dan Antoine Griezmann untuk bersinar. Prancis juara dunia, dan Giroud diakui sebagai pilar taktis yang krusial. Analogi Herdman ini tepat: ia sedang membangun pola pikir bahwa dalam sistem timnya, setiap pemain punya fungsi spesifik. Memaksa Sananta hanya dinilai dari jumlah gol adalah kesalahan membaca permainan.
Masa Depan Sananta dan Solidaritas Tim
Pembelaan Herdman juga memiliki dampak psikologis yang dalam di dalam tim. Dengan pasang badan, ia mengirim pesan kuat kepada seluruh skuad: “Saya akan melindungi kalian selama kalian bekerja untuk tim.” Ini membangun loyalitas dan rasa aman yang tak ternilai. Pemain seperti Sandy Walsh atau Jordi Amat yang melihat pembelaan ini akan merasa lebih nyaman dan rela berkorban. Untuk Sananta sendiri, dukungan ini bisa menjadi turning point. Beban psikologis dari kritik netizen itu nyata dan berat. Dukungan dari pelatihnya bisa mengubahnya dari pemain yang gamang menjadi pemain yang lebih percaya diri, yang pada akhirnya bisa membuahkan gol-gol yang selama ini dinantikan.
Jadi, apa yang bisa kita ambil dari kasus Sananta dan pembelaan tegas John Herdman? Pertama, bahwa sebagai suporter, kita perlu naik level. Naik level dari sekadar penghitung gol menjadi pengamat yang memahami nuansa taktis. Kedua, kepercayaan kepada proses yang dibangun pelatih adalah kunci. Herdman punya visi dan sistem; menilai satu pemain secara terpisah dari sistem itu adalah hal yang sia-sia. Terakhir, mari kita tanyakan pada diri sendiri: apakah kita ingin menjadi bagian dari solusi yang membangun mental pemenang, atau justru menjadi noise yang menggerogoti kepercayaan diri pemain yang sedang berjuang untuk bendera merah putih? Pilihan itu, sepenuhnya ada di genggaman kita setiap kali membuka kolom komentar. Mungkin, saat Sananta nanti mencetak gol penting di Kualifikasi Piala Dunia, kita akan ingat momen ini dan menyadari bahwa kesabaran dan dukungan tanpa syarat adalah investasi terbaik untuk kesuksesan Timnas Indonesia.